KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
22. St. Lusius I (253-254)
Lusius lahir di Roma. Ia terpilih menjadi paus pada 23 Juni 253. Paus ini sangat disiplin namun berhati lunak terhadap mereka yang tadinya menyembah berhala dab sudah bertobat. Kemurahan hati ini berlawanan dengan garis keras dari bidah Novatianisme. Ia diasingkan selama aksi penganiayaan umat Kristen di bawah pemerintahan Kaisar Gallus dan baru kembali ke Roma setelah Gallus wafat. Ketika berada di Roma, ia menerima sepucuk surat dari Santo Siprianus, Uskup Kartago. Di dalam surat itu Siprianus memuji keberanian Lusius menggalakan karya karitatif untuk orang-orang Kristen yang dipenjarakan.
Lusius ditentang oleh Novatianus, seorang imam berkebangsaan Roma yang mengangkat dirinya sebagai paus-tandingan selama mas kepemimpinan Paus Kornelius (251-253). Novatianus menolak pengampunan kepada orang-orang Kristen yang murtad selama masa penganiayaan. Oleh Lusius, pandangan Novatianus dianggap sebagai bidah. Lusius wafat sebagai martir pada 5 Maret 254. Jenasahnya dimakamkan di pemakaman para paus di katakombe Santo Kallikstus, di Jalan Appia. Selama masa kepausannya yang singkat, ia juga melarang kumpul kebo untuk pria dan wanita yang bertalian darah. Ia juga menerbitkan ketetapan agar para rohaniawan tidak tinggal serumah dengan para diakon wanita, meskipun rumah tinggal tersebut pemberian umat untuk para rohaniawan.
|